Melihat Potensi di Halaman Rumah, KKN UINSU Kelompok 15 Ubah Batok Kelapa Jadi Briket Bernilai Jual

Edukasi, News72 Dilihat

LANGKAT – Melihat melimpahnya pohon kelapa yang tumbuh di sekitar rumah warga, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Sumatera Utara (UINSU) Kelompok 15 memanfaatkan potensi tersebut melalui kegiatan sosialisasi dan demonstrasi pembuatan briket berbahan dasar batok kelapa.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu, 22 Agustus 2026, ini mendapat sambutan positif dari warga setempat, khususnya para ibu yang mengikuti kegiatan.

Kegiatan ini menjadi salah satu upaya mahasiswa KKN UINSU Kelompok 15 dalam mendorong masyarakat untuk melihat limbah rumah tangga bukan hanya sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga sebagai bahan yang dapat diolah menjadi produk yang memiliki manfaat dan nilai ekonomi.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menjelaskan kepada warga mengenai apa itu briket, manfaat penggunaannya, bahan dasar yang dapat digunakan, serta potensi pemanfaatan batok kelapa yang selama ini kerap menjadi limbah.

Briket merupakan bahan bakar padat yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif bahan bakar, salah satunya dengan memanfaatkan arang dari batok kelapa.

Mahasiswa KKN melihat adanya potensi yang cukup besar di lingkungan masyarakat. Hampir setiap rumah warga memiliki pohon kelapa, bahkan sebagian di antaranya memiliki dua atau lebih pohon kelapa di halaman rumah.

BACA JUGA :  Kurir 20 Kg Sabu Antar Provinsi, 2 Warga Aceh Dituntut Hukuman Mati.

Kondisi tersebut menjadi peluang untuk memanfaatkan bagian kelapa yang tidak terpakai, khususnya batok kelapa, agar tidak hanya berakhir sebagai limbah.

Selain memberikan pemahaman secara teori, mahasiswa KKN UINSU Kelompok 15 juga melakukan demonstrasi secara langsung mengenai proses pembuatan briket. Warga diajak melihat tahapan pengolahan batok kelapa hingga menjadi briket yang siap digunakan.

Dalam demonstrasi tersebut, mahasiswa memperlihatkan proses pengolahan batok kelapa menjadi arang, kemudian arang dihaluskan dan disaring agar memiliki tekstur yang lebih merata.

Selanjutnya, arang dicampurkan dengan bahan perekat hingga dapat dibentuk, kemudian dimasukkan ke dalam cetakan dan dikeringkan.

Demonstrasi tersebut mendapat perhatian dari warga karena proses pembuatannya dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan yang relatif mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

Para ibu yang hadir juga diberikan kesempatan untuk melihat secara langsung bentuk briket yang telah dihasilkan serta memahami tahapan pembuatannya.

Tidak berhenti pada aspek pemanfaatan limbah, mahasiswa KKN juga memperkenalkan branding produk briket yang telah dibuat.

Branding tersebut menjadi bagian penting agar produk yang dihasilkan tidak hanya dipandang sebagai bahan bakar alternatif, tetapi juga memiliki identitas dan berpotensi dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai jual.

BACA JUGA :  Polsek Helvetia Terbakar

Mahasiswa turut menjelaskan kepada warga mengenai potensi ekonomi dari briket batok kelapa. Dengan adanya pengolahan yang tepat, batok kelapa yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi dapat diubah menjadi produk yang berpotensi untuk dipasarkan.

Hal inidiharapkan dapat membuka wawasan masyarakat bahwa potensi ekonomi desa dapat berasal dari sumber daya yang selama ini tersedia di sekitar rumah.

Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari semangat HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) yang dibawa dalam program kerja KKN. Melalui pengembangan produk, mahasiswa tidak hanya memperkenalkan cara membuat briket, tetapi juga mulai memperhatikan aspek identitas dan branding produk sebagai bagian dari pengembangan inovasi yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

Kegiatan ini juga sejalan dengan semangat ekoteologi, yakni membangun kesadaran untuk menjaga dan memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab. Pemanfaatan batok kelapa sebagai bahan baku briket menjadi salah satu bentuk sederhana dalam mengurangi limbah sekaligus mengoptimalkan sumber daya alam yang tersedia di lingkungan masyarakat.

BACA JUGA :  Rakor TPID, Sekda Langkat Ikuti Zoom Meeting dengan Mendagri 

Antusiasme warga terlihat selama kegiatan berlangsung. Para ibu mengikuti pemaparan dan demonstrasi yang diberikan mahasiswa serta menyambut baik gagasan pemanfaatan batok kelapa menjadi produk yang lebih bermanfaat.

Kehadiran warga dalam kegiatan tersebutmenunjukkan adanya ketertarikan masyarakat untuk mengetahui cara mengolah potensi yang tersedia di sekitar mereka.Kegiatan sosialisasi dan demonstrasi pembuatan briket ini diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan program KKN semata.

Mahasiswa KKN UINSU Kelompok 15 berharap pengetahuan yang telah diberikan dapat diterapkan oleh masyarakat secara berkelanjutan, terutama dalam memanfaatkan batok kelapa yang tersedia di lingkungan rumah.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN UINSU Kelompok 15, Dr. H. Farhan Indra, MA., turut menjadi bagian dalam pendampingan pelaksanaan program KKN yang mengarah pada pemberdayaan masyarakat dan pengembangan potensi desa.

Melalui kegiatan tersebut, KKN UINSU Kelompok 15 berupaya menunjukkan bahwa potensi desa tidak selalu harus berasal dari sesuatu yang baru. Batok kelapa yang selama ini dianggap sebagai limbah pun dapat menjadi sumber manfaat, inovasi, bahkan peluang ekonomi apabila dikelola dengan kreativitas dan pengetahuan yang tepat. (Red)