Cerita Pedagang Kecil Meraup Rezeki, Dari Kampanye Akbar AMIN di JIS

Bisnis51 Dilihat

JAKARTA
Momentum Kumpul Akbar Ber1 Berani Berubah AMIN di Jakarta Internasional Stadion (JIS) membawa dampak positif perputaran ekonomi pedagang kecil.

Salah satu perdagangan yang merasakan manfaat tersebut yakni Fadillah Muhammad. Pria berkaca mata tersebut mengaku, kegiatan Kumpul Akbar Ber1 Berani Berubah membawa manfaat besar bagi perputaran ekonomi pedagang kecil.

Fadillah berasal Kwitang, Jakarta. Ia sendiri berdagang tikar, kipas, hingga stiker. Ia mengatakan telah mendatangi JIS sejak Jumat siang (9/2).

BACA JUGA :  Wujud Kontribusi ke Negara, PLN Setor Rp65,59 Triliun Lewat Dividen, Pajak, dan PNBP

“Euporianya lebih luar biasanya. Pedagang kecil seperti sayakan merasakan manfaatnya lebih besar, apalagi kalau AMIN jadi,” kata Fadillah saat ditemui di JIS, Sabtu (10/2).

Fadillah menyebut, sudah menjual 450 lembar tikar, 800 kipas hingga stiker 500 bungkus per bungkus berisi 4 lembar.

“Tikar ini alhamdulillah saya sudah habis 450 lembar. Kipasnya ada 800 kipas dan pin 500 bungkus. Harga jualan Tikar perlembar 10 ribu, kipas per lembar 10 ribu, juga sama harganya dengan 1 bungkus stiker isi empat lembar,” rincinya.

BACA JUGA :  Upaya Tingkatkan Kepatuhan Masyarakat, Tim Pembina Samsat Teken Komitmen dengan PT Pegadaian Tebing Tinggi

Fadillah menyebut, menjual Tikar karena ia tahu bahwa massa akan sangat membutuh barang ini. Apalagi kata dia, pendukung AMIN datang dari berbagai wilayah Indonesia.

“Karenakan orang jauh dari luar kota, datang jauh-jauh hari pastikan datang menginap, salat, dan tidur di tempat sini. Kalau kipaskan kalau penuh orang, kegerahan sudah bisa kipas. Pin tandanya mendukung AMIN,” katanya.

BACA JUGA :  Massa Pendukung AMIN Berjalan Menuju JIS, Hingga Padati Gang Kecil

Fadillah mengatakan kalau ia akan berjualan hingga siang, namun tak lupa tetap mengikuti Kumpul Akbar Ber1 Berani Berubah.

Ia juga menitipkan harapannya terhadap paslon AMIN di Pilpres 2024, ia mengatakan agar pedagang kecil bisa jauh lebih baik diperhatikan. Juga kata Fadillah, tidak ada lagi muncul diskriminasi terhadap ulama. (Kumparan)